Kalau bertanya tentang hari dalam seminggu, maka semua hari adalah baik kecuali hari hari yang pernah diterangkan Alloh dan Rasul NYA , itulah hari yang kita istimewakan.

Hari Senin merupakan hari yang pernah disebutkan oleh Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam, beliau bersabda :


عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله تعالى عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن  صوم يوم الإثنين, فقال صلى الله عليه  وسلم : " ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت أو أنزل علي فيه "  رواه مسلم
Dari Abi Qotadah Al Anshori Radhillyalloh anhu : Bahwasannya Rasullah shallahhu alaihi wasalam ditanya tentang puasa hari Senin , Maka Nabi shallahu alaihi wasalam menjawab : " Hari itu adalah hari kelahiranku dan hari aku menjadi seorang Rasul ( hari wahyu diturunkan kepadaku ) Hadits Muslim 

Hari Senin adalah hari yang dimulyakan oleh Rasullah dengan amalan Shaum atau berpuasa, bukanlah hadits ini dijadikan dalil sebagai sahnya menjadikan Maulid Nabi seperti yang banyak dipahami oleh kebanyakan orang di Indonesia.

Mari kita tingkatkan amal kita dengan puasa ( shaum ) di hari Senin dan juga Kamis seperti hadits yang telah diriwayatkan oleh AL Baihaqi tentang puasa Senin dan Kamis maka Nabi Shallahu alaihi wasalam menjawab : " Hari Senin dan Kamis adalah hari yang diangkatnya amalan kita dihadapan Alloh maka Aku senang ketika Aku berpuasa pada hari itu ."

Pernikahan sangat mulia di dalam Islam, karena dari pernikahanlah akan berawal generasi-generasi yang kelak akan mengelola Bumi beserta isinya.
Sehingga Islam juga mengatur bagaimana semestinya seorang muslim dan muslimah dalam memilih pasangan hidupnya.
Ini dimaksudkan untuk mencapai kebahagiaan muslim/ah tersebut di dunia hingga kelak dia sampai di akhirat.
Rudifillah El Karo, Pengurus Rumah Dakwah Indonesia, mengatakan setidaknya ada beberapa kriteria calon Istri ideal menurut pandangan Islam.
KRITERIA CALON ISTRI IDEAL :
1. Shalehah
Rasulullah bersabda, “Setelah ketaqwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang lelaki daripada istri shalehah, jika ia melihat istrinya, istrinya itu menyenangkannya; jika ia menyuruhnya, ia mematuhinya; jika ia memberi, ia beterimakasih; dan jika ia pergi, istrinya menjaga diri dan hartanya”.
(HR. Ibnu Majah)
Sifat terpenting yang dicari lelaki pada wanita adalah mulia, menjaga diri dan beragama.
“Wanita dinikahi karena 4 hal; harta, kecantikan, kehormatan, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama maka engkau akan beruntung”.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Istri shalehah adalah penenang dan penolong masalah agama dan dunia
2. Akhlak Mulia
Sabda Rasulullah ketika ditanya, “Apakah hal yang terbaik yang Allah anugerahkan pada Manusia? Beliau ﷺ menjawab, “Akhlak yang mulia”
(HR. Ibnu Hibban)
Akhlak mulia tidak akan membuat istri menyakiti suami, karena mereka tahu bahwa akhlak yang mulia pada suami adalah ibadah paling utama di hadapan Allah
3. Keturunan
Sabda Rasulullah ﷺ, “Cermatlah dalam memilih istri yang akan menerima nuthfah-mu, sebab sifat orang tua sangat berpengaruh pada Anak”
(HR. Ibnu Majah)
Beliau ﷺ melarang kita terpikat pada wanita cantik yang berasal dari keluarga buruk.
Beliau bersabda, “Jauhilah khadaraa’ ad-diman”, para sahabat bertanya “apa khadaraa’ ad-diman?” Beliau bersabda, “Wanitacantik dari keluarga yang buruk”.
(HR. Ad-Dailami dan Ad-Daruquthni)
Selain dari keluarga yang kurang baik, maka dihindari wanita yang dididik secara buruk.
Terkadang ada wanita shalehah dan berakhlak baik, padahal orang tuanya tidak terhormat. Apakah tidak boleh dipilih jadi istri?
Allah berfirman,
“Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain”
(QS. An-Najm: 38)
4. Hendaklah Seorang Gadis
Rasulullah Bersabda, “Carilah istri yang masih gadis, sebab rahim mereka lebih subur, mulut mereka lebih lembut, tipu daya lebih sedikit, dan lebih ridha pada penghasilan yang sedikit” (HR. Ibnu Majah dan At Thabarani)
Wanita (istri) ada 3 macam, ada yang menyenangkan, ada yang menyusahkan, ada juga yang tidak menyenangkan dan tidak menyusahkan.
Yang menyenangkan adalah gadis yang tidak punya pengalaman selain darimu, jika melihat kebaikanmu dia bersyukur pada Allah.
Yang tidak menyenangkan adalah janda yang punya anak dari suami terdahulu, sebab dia akan menimpakan keinginan anaknya padamu, dan lebih mengikuti anaknya.
Yang di antara kedua itu adalah janda yang belum memiliki anak, sebab melihat kebaikanmu ia akan berkata ini pantas untukku, jika ia melihat keburukanmu ia akan merindukan suaminya yang pertama
5. Cantik Dan Menyenangkan Bila Dipandang
Kecantikan itu relatif, karena semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kecantikan.
Namun jangan sampai kecantikan menjadi prioritas utama dalam pernikahan, karena pasti akan menemukan kegagalan.
6. Cerdas dan Pandai Mengurus Rumah Tangga
Seorang istri harus cerdas dalam mengelola rumah tangga, menentukan masa depan anak, dan memanajemen rumah.
Imam Ahmad pernah berkata, “Sifat kewanitaan ada pada setiap wanita, tetapi kecerdasan tidak ada pada setiap wanita”
7. Sepadan
Mencari istri/suami sempurna itu tidak mungkin, carilah yang sepadan.
Jangan ada jurang terlalu dalam, baik mental dan akhlak.
Carilah yang sepadan dalam pemikiran, pemahaman, selera, cita-cita dan pola berfikir.

Begitu banyak kemuliaan dan keutamaan yang disandangnya. Barangkali kemuliaan tertinggi yang sedang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya –setelah nikmat Iman dan Islam– adalah kedudukannya sebagai bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masuk Islam—menurut pendapat yang kuat. Di samping itu. Dia adalah ibunda Hawari (penolong) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk Surga. Cukuplah semua itu sebagai kemuliaan bagi Shafiyyah.
Namun ternyata tidak hanya sampai di situ. Namanya dalam sejarah makin berkilau laksana permata yang ditimpa cahaya matahari setelah para sejarawan menggelarinya sebagai wanita pertama yang berhasil membunuh orang musyrik.
Ia terlahir dari keluarga terpandang dan disegani. Ayahnya adalah Abdul Muththalib, seorang pembesar Quraisy dan ibunya adalah Halah binti Wahab, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalur ibu yang notabene juga dikenal sebagai keluarga terpandang. Pernikahannya yang pertama adalah dengan Al-Harits bin Harb bin Umaiyah, saudara Abu Sufyan pemimpin Bani Umaiyah. Setelah Al-Harits meninggal, saudara Ummul Mukminin Khadijah. Dan darinya terlahir Zubair dan Sa’ib.
Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seabgai rasul, banyak kaum Quraisy yang menentang dan sedikit sekali yang menerima dakwahnya, baik dari kerabat maupun yang lainnya. Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat,
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’aro: 214)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepada semua kerabatnya yang tua, muda, laki-laki, dan wanita. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke bukit Shofa dan berseru, “Wahai Fathmah binti Muhammad! Wahai Shafiyyah binti Abdul Muththalib! Wahai Bani Abdul Muththalib! Aku tidak mampu menolong kalian dari adzab Allah sedikitpun, (Jika kalian menghendaki sesuatu dariku maka, red.) mintalah hartaku sesuka kalian.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kemudian bergabunglah Shafiyyah radhiallahu’anha dalam bahtera Islam bersama putranya Zubair bin Awwam radhiallahu’anhu dan orang-orang pertama memeluk Islam, berlayar menghadang ombak dan gelombang dengan keimanan dan keyakinan menuju keridhaan Allah dan Rasul-Nya, berjuang menghadapi penentangan kaum Quraisy. Kemudian dia hijrah bersama putranya ke Madinah, meninggalkan kampung halaman dan segala kemungkinan yang hakiki.
Dalam kehidupan Shafiyyah radhiallahu’anha ada dua peristiwa besar yang tak luput dari goresan tinta emas sejarah. Yang pertama tentang ketegaran dan kesabarannya pada Perang Uhud, dan yang kedua adalah keberanian dan kepahlawanannya pada Perang Khandaq. Marilah kita ikuti kisahnya satu persatu.

Peristiwa Pertama

Yaitu pada saat Perang Uhud. Walaupun telah berusia lebih kurang 56 tahun, Shafiyyah tetap bersemangat untuk bergabung bersama para wanita kaum muslimin untuk membantu merawat para mujahid yang terluka dan mengambilkan air minum, dan memperbaiki panah. Perang terus bergejolak, kemenangan awalnya berada di pihak kaum muslimin berbalik menjadi kekalahan disebabkan tidak taatnya sekelompok kaum muslimin kepada perintah Rasulullah.
Melihat kekalahan di barisan kaum muslimin, serta diserangnya Rasulullah oleh kaum musyrikin, akhirnya Shafiyyah pun ikut terjun ke medan perang dengan bersenjatakan tombak. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Shafiyyah mendekati jasad saudara kandungnya –Singa Allah-, Hamzah bin Abdul Muththalib, yang dibunuh oleh kaum musyrikin secara sadis, beliau memerintahkan kepada Zubair untuk menjauhkan ibunya dari tempat itu. Akan tetapi, dengarlah jawaban wanita mukminah yang sabar ini, “Mengapa (aku tidak boleh melihatnya), aku telah mendengar saudaraku telah dibunuh secara sadis, dan itu di jalan Allah…”
Subhanallah! Seakan ia ingin berkata, “Semua musibah yang terjadi, bila itu di jalan-MU ya Allah, aku rela dan ikhlas. Tak mengapa bagiku melihat jasad saudaraku yang dibelah perutnya, diambil jantungnya, hidung dan telinganya dipotong demi membela agama-Mu ya Allah, aku rela dan sabar, karena aku tahu bahwa Engkau akan menempatkannya pada sebaik-baik tempat di sisi-Mu.”
Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Shafiyyah melihat jasad Hamzah dan menyolatinya.

Peristiwa Kedua

Yaitu ketika terjadinya Perang Khandaq. Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi berperang selalu meninggalkan para wanita, orang tua, dan anak-anak di tempat yang aman. Dan pada saat Perang Khandaq, mereka dititipkan di benteng Hasan bin Tsabit yang bangunannya terletak di tempat yang tinggi dan berpagar kuat. Di sanalah Shafiyyah dan para wanita yang lain dititipkan bersama Hasan sang pemilik benteng yang ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga mereka.
Di saat kaum muslimin sibuk di Khandaq, kaum Yahudi dari bani Quroizhah yang telah melanggar perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang dari mereka untuk memata-matai para wanita. Apabila tidak ada laki-laki yang melindungi mereka, maka mereka akan dijadikan tawanan, dan bila hal itu terlaksana maka akan menjadi pukulan hebat terhadap kaum muslimin.
Melihat ada orang yang mengendap-endap mendekati benteng, Shafiyyah berkata kepada Hasan bin tsabit, “Pergilah dan bunuh orang itu!” Hasan menjawab, “Wahai binti Abdul Muththalib, engkau tahu bahwa aku tidak berani melakukannya.”
Mendengar jawaban Hasan, Shaifyyah berpaling dan pergi mengambil sebuah tiang lalu keluar dari benten. Diam-diam ia memukul kepala orang Yahudi itu dengan tiang tersebut sampai mati. Kemudian ia kembali ke benteng dan menemui Hasan bin Tsabit sambil berkata, “Penggallah kepala Yahudi itu dan buanglah ke bawah!” Namun jawaban Hasan tetap sama seperti semula, “Aku tidak berani.”
Keluarlah Shafiyyah dan memenggal sendiri kepala Yahudi itu dan melemparnya ke bawah bukit. Melihat kepala temannya menggelinding turun dari atas benteng, nyali orang-orang Yahudi menjadi ciut dan berkata, “Sekarang kami tahu bahwa orang ini (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan meninggalkan keluarganya tanpa ada yang menjaga mereka.” Pada masa kekholifahan Umar bin Khaththab, yaitu tahun ke-20 H, Shafiyyah radhiallahu’anhu wafat dan dimakamkan di Baqi’ Ghargqad.




Yahiye Adam Godhan adalah anak seorang tukang daging yang banyak menyangsikan dan menentang dogma Kristen. Ia juga merasa heran melihat teman-temannya beribadah kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Di kemudian hari, ketika ia mulai mengenal Islam dan Alquran, ia mendapatkan alasan yang kuat mengapa harus menjadi seorang muslim.

Yahiye menceritakan kisah hidupnya sejak remaja hingga menemukan Islam sebagai jalan hidup yang hakiki. Ia bertutur:
Saat berusia 17 tahun, aku memiliki pengalaman yang sedikit berbeda dengan pengalaman-pengalaman remaja Amerika pada umumnya. Aku dibesarkan di sebuah peternakan kambing di tengah pedesaan, di Western Riverside County, California. Di peternakan keluarga itu, peternakan kami mampu menghasilkan susu, keju, dan daging dari 150 sampai 200 hewan yang kami miliki. Ayahku adalah seorang tukang daging yang menyembelih hewan-hewan pedagingnya dengan cara islami. Kemudian ia memasoknya ke toko makanan Islam yang terletak beberapa blok dari Islamic Center di pusat kota Los Angeles.
Ayahku dibesarkan sebagai seorang agnotis atau ateis, kemudian menjadi penganut Kristen karena tak sengaja mempelajari Injil yang ia temukan tertinggal di pantai. Ayahku punya beberapa teman yang beragama Islam, tapi saat ini, semua teman-teman muslimnya sudah pindah dari California. Sementara ibuku, sejak kecil dididik sebagai seorang Katolik namun ia memiliki prinsip yang sama dengan ayahku, sama-sama tidak mengimani konsep trinitas.
Aku dan saudara-saudaraku mengenyam pendidikan home schooling. Perlu diketahui, kebanyakan keluarga yang mengambil home schooling adalah orang-orang Kristen. Selama delapan tahun lebih, keluargaku berinteraksi dengan komunitas Kristen di home schooling ini. Namun, justru hal itulah yang mulai membuka mataku.
Aku mulai menemukan hal-hal yang kuanggap aneh, meskipun Kristen menyatakan bahwa mereka penganut trinitas, kenyataannya mereka hanya menujukan doa-doa mereka kepada Yesus. Menurutku hal itu benar-benar mengherankan. Orang-orang Kristen menganggap hal itu sebagai syarat untuk memperoleh keselamatan. Sejak saat itu, secara bertahap aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjadi seorang penganut Kristen.
Selanjutnya, aku sangat terobsesi dengan aliran pemuja setan yang ada pada musik heavy metal. Dan tentu saja keluargaku sangat menentang keras hobi baruku ini. Mulailah kuhabiskan hari-hariku untuk terus mendalami musik ini; aku mulai menjalani hidup kotor dan jorok serta menjauhi kebersihan, kamarku kubiarkan begitu sangat berantakan dan kacau, dan hubungnku dengan orang tua mulai menegang, walaupun aku juga sering meminta maaf kepada mereka.
Di tahun berikutnya, aku mulai mendengar khotbah berapi-api di radio dari Kristen Apokaliptik, menceritakan tentang ancaman Islam. Namun peringatan mereka malah menimbulkan rasa ketertarikan di hatiku untuk mengetahui Islam lebih jauh. Aku anggap hal ini sebagai salah satu kegiatan untuk mengisi kekosongan.
Titik balik dari kesia-siaan yang aku lakukan adalah ketika pindah ke Santa Ana, California, tinggal bersama nenekku. Di California, aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi apa mau dikata, mencari pekerjaan itu sangat mudah diucapkan namun sulit untuk dilalui. Dan saat itulah aku mulai menemukan tempat-tempat diskusi Islam.
Disana, aku menemukan bahwa keyakinan dan praktik agama ini benar-benar sesuai dengan fitrah dan logika manusia. Islam mengajarkan bahwa Allah bukanlah bagian dari manusia, akan tetapi Dia sebagai Dzat yang terpisah dari manusia, esa tak berbilang. Islam memiliki kitab suci yang sangat mudah untuk dipahami sekalipun oleh orang awam. Tidak ada kepausan yang dianggap sempurna dalam hal penafsiran. Setiap muslim memiliki kebebasan menafsirkan Alquran dengan kesadaran akan kadar ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
Muslim tidak meyakini bahwa semua orang ditakdirkan masuk neraka. Sehingga Tuhan tidak perlu mengorbankan dirinya disiksa di tiang salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Muslim meyakini bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun, kecuali bagi mereka yang ingkar dan memang tidak mau bertaubat kepada-Nya. Muslim tidak percaya akan adanya ras terpilih, semua sama di mata Allah yang membedakannya hanyalah takwa. Dan masih banyak hal-hal lain.
Setelah mulai membaca terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, aku semakin yakin akan kebenaran dan keaslian ajaran Allah yang terkandung dalam 114 surat Alquran. Setelah bertahun-tahun bergaul dengan orang-orang Islam, aku tahu benar bahwa mereka bukanlah orang-orang yang haus darah, teroris, dan barbar, seperti yang digambarkan oleh media dan para aktivis Injil.
Bekal inilah yang membuatku semakin tertarik untuk mengetahui dan meneliti Islam lebih jauh, lebih dari yang orang lain ketahui. Karena aku belum bisa memutuskan dan memantabkan hati kalau Islam adalah benar-benar takdirku.
Sampai akhirnya, pencarian tersebut menemui titik temu. Menurutku, ini adalah proses yang sangat alami tanpa ada paksaan. Pada November 1995, aku mengunjungi komunitas Islam di California, Islamic Society of Orange County, di Garden Grove. Aku katakan kepada salah seorang saudara muslim yang mengurus perpustakaan di sana, bahwa aku ingin memeluk Islam. Lalu dia memberiku beberapa bahan bacaan, dan kemudian aku mengucapkan syahadat di dalam masjid yang penuh sesak.
Minggu berikutnya, kuhabiskan untuk mempelajari tata cara shalat dan merenungkan kebesaran Allah. Menjadi seorang muslim benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa!
Subhana rabbiyal ‘aziim!

Beberapa bulan terakhir, berita tentang masuk Islamnya seorang atlet sepak bola internasional terdengar cukup ramai berseliweran di dunia maya. Ya, seorang pemain internasional asal Togo, Sheyi Emmanuel Adebayor, mengumumkan bahwa ia telah memeluk Islam. Ia telah meninggalkan keyakinan Kristennya dan memilih Islam sebagai jalan hidup. Jalan kebenaran yang ia yakini.
Menariknya, ia juga menyebutkan beberapa alasan mengapa ia memilih Islam dan meninggalkan Kristen. Tentu ini menunjukkan, Adebayor melakukan pengkajian, membandingkan, dan merenungkan sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bukan sekedar ikut-ikutan dan emosional saja.
Berikut ini alasan Adebayor memeluk Islam sebagaimana dirilis oleh theheraldng.com. Pesepakbola yang pernah bermain untuk klub-klub sepak bola top Eropa: Arsenal, Manchester City, Real Madrid, dan kini Tottenham Hotspurs ini mengatakan,
“Aku punya 13 alasan yang kuat mengapa seorang muslim itu sama seperti Yesus dan mereka lebih mengikuti Yesus daripada orang-orang Kristen:
Pertama, Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Hanya satu Tuhan saja yang berhak untuk disembah. Hal itu termaktub dalam Deut 6:4, Mark 12:29. Umat Islam juga meyakini demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surat 4 (An-Nisa) ayat 171.
Kedua, Yesus tidak makan daging babi. Dijelaskan dalam Leviticus 11:7. Sama dengan yang dilakukan umat Islam. Dan hal itu dijelaskan Alquran dalam surat 6 (Al-An’am) ayat 145.
Ketiga, Yesus mengucapkan salam dengan kalimat “assalamu’alaikum” (kedamaian selalu bersamamu). Terdapat dalam John 20:21. Muslim juga mengucapkan salam dengan cara demikian.
Keempat, Yesus selalu mengucapkan “God Willing” (insya Allah). Umat Islam mengucapkan kalimat ini juga sebelum mereka melakukan apapun. Sebagaimana dituntunkan dalam Alquran surat 18 (Al-Kahfi) ayat 23-24.
Kelima, Yesus mencuci wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya sebelum shalat. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang muslim.
Keenam, Yesus dan nabi-nabi lainnya yang terdapat di dalam Injil shalat dengan meletakkan kepala mereka di tanah. Dijelaskan dalam Matthew 26:39. Muslim juga melakukan demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surta 3 (Ali Imran) ayat 43.
Ketujuh, Yesus memiliki janggut dan memakai throbe (gamis). Hal ini disunnahkan bagi seorang muslim.
Kedelapan, Yesus mengikuti syariat (syariatnya tauhid sama seperti nabi-nabi sebelumnya pen.) dan mengimani semua nabi. Lihat Matther 5:17. Muslim juga diajarkan demikian oleh Alquran. Lihatlah surat 3 (Ali Imran) ayat 84 dan 2 (Al-Baqarah) 285.
Kesembilan, Ibu Yesus, Maryam, mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan mengenakan hijab. Sebagaimana terdapat dalam 1 Timothy 2:9, Genesis 24: 64-65, dan Corinthians 11:6. Wanita muslimah juga mengenakan pakaian yang sama. Alquran mengajarkan mereka dalam surat 33 (Al-Ahzab) ayat 59.
Kesepuluh, Yesus dan nabi-nabi lainnya yang disebutkan di dalam Injil berpuasa hingga lebih dari 40 hari. Lihat Exodus 34:28, Daniel 10:2-6. 1Kings 19:8 dan Matthew 4:1. Muslim pun berpuasa selama bulan Ramadhan. Seorang muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh, 30 hari. Lihat Alquran surat 2 (Al-Baqarah) ayat 183. Kemudian dianjurkan untuk melanjutkan berpuasa 6 hari untuk menambah ganjaran pahala.
Kesebelas, Yesus mengajarkan agar berucap “Kedamaian untuk rumah ini” ketika memasuki rumah. Lihat Luke 10:5. Dan juga memberi salam kepada orang-orang di dalam rumah dengan ucapan “Kedamaian untuk kalian”. Sekali lagi, muslim melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus. Ketika kita masuk ke rumah kita, atau rumah orang lain, kita mengucapkan “Bismillah” dan juga memberi salam “assalamualaikum”. Inilah tuntunan Alquran dalam surat 24 (An-Nur) ayat 61.
Kedua belas, Yesus dikhitan (disunat). Khitan merupakan salah satu dari 5 sunnah fitrah dalam ajaran Islam. Dalam Islam, seorang laki-laki diwajibkan untuk berkhitan. Berdasarkan Injil Luke 2:21. Yesus berusia 8 hari saat ia dikhitan. Di dalam Taurat, Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim bahwa khitan adalah sebuah “perjanjian abadi”. Lihat Genesis 17:13. Di dalam Alquran, surat 16 (An-Nahl) ayat 123, seorang muslim diwajibkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ibrahim berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Ketiga belas, Yesus berbicara dalam bahasa Aramaik dan menyebut Tuhan dengan Elah. Secara penyebutan atau pelafalan, sama dengan lafadz Allah. Aramaik adalah bahasa kuno. Ia merupakan bahasa Bible. Bahasa ini merupakan salah satu dari Bahasa Semit. Termasuk juga bahasa Hebrew (Ibrani), Arab, Ethiopia, dan bahasa-bahasa kuno lainnya seperti bahasa Assyria dan Babylonia yang merupakan Bahasa orang-orang Akkadia.
Bahasa Aramaik “Elah” dan bahasa Arab “Allah” adalah sama.
Kata Aramaik “Elah” berasal dari bahasa Arab “Allah”. Yang artinya adalah Tuhan. Allah dalam bahasa Arab artinya juga Tuhan. Tuhan Yang Mahatinggi. Anda bisa dengan mudah mendapatkan kesamaan pelafalannya. Dengan demikian, Tuhannya Yesus juga merupakan Tuhannya orang-orang Islam. Dialah Tuhan semua manusia. Dan Tuhan semua makhluk yang ada.

Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah pengikut Yesus yang sebenarnya? Tentu saja jawabnya umat Islam. Sekarang saya yakin saya telah menjadi pengikut Yesus yang sebenarnya”. Tutup Adebayor.

Penutup
Kajian yang dilakukan Adebayor benar-benar menunjukkan bahwa yang benar itu jelas dan yang menyimpang itu juga telah jelas. Oleh karena itu, benarlah apa yang Allah firmankan,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS:Ali Imran | Ayat: 85).
Rugilah mereka yang memilih agama selain Islam. Apalagi menukarnya dengan yang selainnya.

KENGERIAN di akhir zaman kelak telah kita ketahui. Namun, mengapa masih banyak orang yang melakukan dosa. Bahkan, jumlah pelaku pembuat dosa kini semakin bertambah saja, bukan berkurang. Padahal, kita tidak pernah kapan dunia ini akan habis masanya.
Tentunya orang yang berbuat dosa itu akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Dan azab yang telah Allah sediakan bagi mereka, semua berbeda, tergantung perbuatan dosa apa yang mereka lakukan selama hidup di dunia. Azab itu bisa saja diberikan ketika masih di dunia, dan bisa pula ditangguhkan hingga nanti di akhir zaman.
Salah satu azab yang akan diterima oleh pelaku pembuat dosa ialah dipukul dengan palu dari besi pada akhir zaman. Siapakah orang-orang yang mendapatkan azab itu? Merekalah orang-orang kafir atau munafik.
Dari Anas RA, dari Nabi SAW, “Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya, ‘Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah SAW)?’ Dia mengatakan, ‘Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Maka, kedua malaikat mengatakan, ‘Engkau tidak tahu? Engkau tidak membaca?’ Kemudia ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia,” (HR. Muttafaqun ‘alaih). []







Motor mulai dinaikkan satu persatu ke atas motor tambang, motor yang digunakan untuk melintas menyeberang Sungai Kapuas. Bukan motor dengan roda, tapi perahu bermesin motor. Sepanjang Sungai Kapuas, inilah moda transportasi penting dan disebut dengan motor tambang. Motor tambang selalu jadi pilihan disamping kapal feri. Menunggu kapal feri akan lebih lama, sedang dengan motor tambang, kapan saja bisa berangkat, sekalipun hanya berdua, seperti halnya senja ini. Perahu ini hanya mengangkut dua motor. Dengan empat penumpang didalamnya lima orang dengan sopirnya. Kapal itu mulai merayap membelah kapuas. Dermaga kecil di Rasau Jaya mulai ditinggalkan menuju Desa Pinang diseberang.

“Mas, kenapa melihat langit terus?”
Aziz hanya menghela nafas, tak hiraukan pertanyaan dari kawan seperjalanan. Hingga tanya itu diulang lebih kuat, lebih dekat.
“Mas kenapa melihat langit terus?” ulang Indri
“Coba lihat purnama itu In, orange kemerahan, bagus kan?” Jawab Aziz sembari menunjuk langit tempat purnama menanjak terbit.
“Bagus gimana mas? Malah menakutkan”
Benarlah langit hari ini terasa lebih gelap, kabut asap masih juga mengungkung langit. Gelapnya malam justru menampakan beberapa semburat merah pada daratan yang terbakar. Kebakaran hutan maupun semak belukar. Entah karena pembukaan ladang, atau memang skala industri. Diluar motor tambang ini orang orang masih meributkan dari mana asap ini berasal. Sedang penumpang di sini sedang menghisap asap yang diributkan itu. Asap yang putih pekat yang menghalau cahaya purnama. Membuatnya berwarna jingga.
Aziz menoleh, mendekat ke Indri yang sudah duduk di sebelahnya, suara deru mesin kapal tambang mengaharuskan mereka setengah berteriak untuk bercakap.
“Menakutkan gimana In? itu malah bagus ” kata Aziz kemudian.
“Bukankah bulan berwarna jingga itu lambang bencana mas? Paling tidak sekarang ada bencana kabut asap” jelas Indri.
Aziz mulai keheranan menatap purnama yang tidak pada biasanya berwarna jingga. Maka katanya kemudian.
“Ah kamu In, tidak lah, eh tapi iya juga ya In, purnama jadi jingga begitu karena ada bencana kebakaran hutan, jadi asapnya menghalang sinar bulan”
“Nah kan, hari ini aja asap kebakaran masih kuat mas”
“Tapi tetep bagus In, makin bagus malah” jelas Aziz yang masih juga kukuh dengan pendapatnya.
“Terus apa yang buat bulan itu bagus mas?” tanya Indri.
Tanpa disepakati purnama dipandang bersama, pancarannya terpantul di permukaan sungai terpanjang di Indonesia itu, seumpama tidak ada suara mesin, keheningan di tengah sungai sudah cukup menakutkan bagi Indri apalagi dengan naungan rembulan jingga di langitnya. Andai tidak ada kabut asap pastilah senja ini mulai dingin menusuk kulit, kemarau panjang telah menimpa kota ini, lebih dari dua bulan hujan enggan datang. Jauh disana konon manusia telah menabur awan dengan garam. Memaksa awan agar menurunkan hujan. Tapi nyatanya hujan belum juga datang. Sedang hutan dan belukar terus terbakar tak terhentikan.
Aziz menghela nafas panjang, melenguh. Disilangkan dua tangannya di depan dada untuk menghalau udara yang sejuk.
“Bulan itu mengingatkanku pada masa kecil In, waktu aku senang menyusul ibu”.
“Hm…?” gumam Indri meminta penjelasan.
“Iya, menyusul ibu. Tiap dini hari ibu pergi kulakan di desa sebelah, dan aku selalu menyusul ibu ketempat berbelanja In”.
“Dini hari itu juga Mas?” seru Indri keheranan. Berkerut dahi Indri karena heran.
“U um in. Dan tiap purnama semua berubah In, seperti ada penerang di tengah pematang, aku tak perlu repot bawa senter dan tak perlu payah berkelit dari lubang jalan” terang Aziz
“Ndak takut apa mas dini hari nyusul ibu ke desa sebelah?”
“Hehe namanya juga sayang In, apapun akan dilakukan kan, apalagi hanya nyusul sendiri ke desa sebelah”.
Senyum Aziz masih terlukis ketika menerangkannya, memandang purnama, seolah purnama mampu mengembalikan masa indah bersama ibunya.
“Mas sayang dengan ibu?”
“Iya in, dan siapalah yang lebih kita sayang lain dari pada ibu?”
Pertanyaan yang tidak terjawab, dua orang penyeberang Kapuas larut dalam lamunan masing masing, terlebih Aziz, purnama kembali mengingatkan akan masa kecil. Semasa Ia masih harus bersepeda menyusul ibunya. Semasa kecil jikalau Aziz bangun akan mencari ibunya. Ibu yang tidur bersamanya karena memang tiada kamar lain, Aziz kecil tidur bersama ibu, sementara bapak istirahat di teras rumah menjaga toko tidak berpintu. Jika Aziz bangun dan dirasa ibu tidak di sisi, maka segera Ia raih sepeda dan mengayuhnya. Jikalau purnama. Aziz akan memperlambat laju sepeda. Bukan karena takut tapi purnama membuat semua bercahaya menjadi teman untuk menjumpai ibunya. Aziz terus melaju menuju ibu yang membeli dagangan untuk di jual eceran di pagi hari kemudian. Di warung desa sebelah. Ia selalu dapati ibu sedang sibuk memilih dan mengemas dagangan.
“Lah anakku dah sampai, sini Nak duduk sini,” sapa ibu tiap Aziz datang.
Aziz hanya menjawab dengan senyum lega untuk langsung duduk di samping ibunya yang sedang repot. Tanpa kata. Menurut.
“Nah ini sarapan dulu” lanjut ibu, mengulurkan sepiring bubur dengan tumpangan urap dan tempe diatasnya. Masih mengepul hangat. Aziz kecil segera melahapnya. Memakan hingga habis selagi hangat. Untuk kemudian berdiam di samping ibunya. Ibunya akan segera tahu kalau Aziz mulai mengantuk lagi.
“Eh kalau mau tidur geser sebelah sana Ziz, gih” pinta ibu.
Tanpa ada penolakan segera Aziz bergeser, bagi Aziz kecil berada di samping ibu sudah nyaman, tak mengapa jikalau tidak dalam hangat pelukan, asal Aziz tau ibu ada di sisi, cukuplah itu menentramkan. Dan Aziz pun lelap di sudut ruangan sesak barang. Sumpek ruangan tak lagi dihiraukan. Asal bersama ibu. Dan purnama selalu berhasil membantu Aziz menjumpakan dengan pemberi rasa nyaman. Ibu.
“Mas tidak sedih mengingat kenangan itu?” tanya Indri.
Buyar semua lamunan Aziz. Dipandangnya Indri dengan tatapan sayu jika Indri dapat melihat jelas, maka akan didapati mata Aziz berkaca mengenang semua.
“Ibu kan sudah meninggal, Mas tidak sedih mengenangnya?”. Indri mengulang lagi pertanyaannya.
“Kenapa musti sedih In, Aku punya masa bersama ibu yang menyenangkan, bukankah mengenang hal yang menyenangkan juga menyenangkan?”.
“Tapi jika tidak bisa terulang kan malah jadi sedih Mas?”
“Barang kali begitu In, tapi aku selalu indah mengenang ibu walaupun beliau sudah dahulu pergi, dan tau kau In, kadang aku merasa tidak perlu takut dengan kematian.”
“Mas ngigau, semua orang berusaha lari dari namanya mati Mas”
“Sungguh In, Aku tidak takut. Bukankah dengan mati orang yang hidup kelak akan dijumpakan dengan yang mendahului? Termasuk aku akan dijumpakan lagi dengan ibu kan In? Kenapa musti lari jikalau mati menjumpakan dengan orang yang kita cinta.”
“Tapi mati juga memisahkan kita dari orang yang kita cinta Mas, dengan keluarga dan juga dengan berbagai nikmat di dunia kan? hayoo?”
“Iya In, kita meninggalkan yang kita cinta untuk nanti bekumpul dengan orang yang kita cinta. merekapun akan menyusul juga. Dan In, nikmat dunia akan diganti dengan nikmat yang abadi, kau dengar In? Abadi.”
“Hehe…mas ndak niat bunuh diri kan?” gurau Indri.
“Hm….ndak perlu bunuh diri In, mati seperti dermaga Desa Pinang itu, kita mau tak mau akan menghampirinya. Ya kan?”
Kapal perlahan mendekat dermaga Desa Pinang, tempat tujuan dua orang akan melanjutkan perjalanan. Sekalipun mereka membincangkan soal kematian, api masih juga belum mati. Berbagai media masih memberitakan berbagai jurus untuk membuat mati api penyebab asap pengungkung kota. Bahkan dibentuk pula satuan tugas untuk membunuh api. Sedang dua pengendara di motor tambang mulai enggan membincangkan soal mati.
“Udah mas jangan bahas bulan dan jangan bahas mati lagi, jadi takut dengarnya” rengek Indri.
Tak ada jawaban, yang timbul adalah gerak persiapan, kapal motor air sudah mulai merapat di Desa Pinang, Kapuas telah terlewati. Purnama masih indah membayang di muka sungai. Seperti mata gadis dalam kesendirian.
“Kau tau kenapa purnama selalu indah in?” sambung Aziz sembari memegangi motor yang hendak diturunkan dari motor tambang.
“Kenapa?”
“Karena dia hanya sendiri dalam kegelapan, gemintang pun akan sayu menyingkir kalah indah,”
“Yaelah..udah ayo turun Mas sudah sandar ini”
Berdua mereka tersenyum bersama mengahiri pembicaraan diatas motor tambang. Kembali Aziz mengemasi barangnya, motor yang penuh muatan untuk sajian makan esok hari lengkap dengan tas di depan dan belakang. Berdua mulai menurunkan motor dari atas motor tambang. Seperti layar televisi kuno, temaram mereka saling pandang, untuk segera melanjutkan perjalanan. Sementara sinar purnama tetap mengguyur mereka dengan sinarnya. Purnama jingga di langit khatulistiwa.




DR. Amin bin ‘Abdullah al-Syaqawi

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits Dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”.1
Hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali di dalam risalah yang sangat berharga, aku merangkum penjelasannya dalam bahasan yang singkat ini: Dia berkata, “Dan tafsir hadits ini adalah bahwa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya, harta sebagai bekal hidupnya, dua shahabat ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai sarana untuk berdzikir kepada Allah SWT, dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu sebatas kebutuhan yang bisa menyampaikannya untuk kehidupan akherat, dia mencari istri yang shalehah yang bisa menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah SWT maka dia temasuk orang yang merugi, sebagaimana firman Allah SWT, tentang orang-orang Badui:
شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا
“Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11).
Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.. (QS. Al-Munafiqun: 9).
Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrok dari hadits Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau padsti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang mu’min ada pada saat qiyamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada manusia”.2.
Maka apabila anak Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil mamfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang bisa mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di kekluarkan dari hartanya untuk kebutuhan dirinya. Allah SWT berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. Al-Asyu’ara: 88-89.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu;…”. (QS. Al-An’am: 94).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanafaat dan anak shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya”.3
Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluaraga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Bisa jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab bisa jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang shaleh: Keluargamu sibuk membagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Tagabun: 14).
1 Shahih Bukhari: 4/194 no: 6514 dan shahih Muslim: 4/2273
2 Mustadrokul hakim: 4/360 dan Al-Mundziri di dalam kitab: Al-Targib wat tarhib 1/485: HR. Thabrani fil awsath dengan sanad yang hasan, dan shahihkan oleh Al-Bani rahimhullah di dalam shahihul jami’: 1/76 no: 73.
3 Shahih Muslim, halaman: 670 o: 1631